Jumat, 01 Agustus 2014

Mimpi dan kelahiran


Selamat malam dan SEMANGAT BARU!!😃

Tadi malam tuh ibuku nyeritain cerita yang seru banget! Dari situ gue tergelitik buat langsung menuangkannya di blog ini.

Malam itu gue yang lagi asyik membaca buku biografi "Nabi Muhammad" karya Martin Lings. Seorang cendekiawan inggris yang masuk Islam. Dari beberapa review belakang covernya disebut kalo buku ini adalah salah satu buku terbaik yang menceritakan kisah rasulullah. Penasaran dong. Dan ga salah sih. Beneran menarik deh. Gue aja tergelitik buat membaca dengan keras supaya ibu gue tahu ceritanya bagus dan mengerti kalo membaca itu asyik.

Dia begitu terkagum dengan kepiawaian penulis ini. Gue dan mama pertama kalinya bersatu menikmati sebuah buku. Ini bisa disebut quality time yang paling gue suka dengan orangtua.

Cerita berlanjut sampai di bagian "aminah memimpikan sesuatu sebelum melahirkan seorang nabi sang pemimpin umat". Eh mama pun nyeletuk kalo dia pun pernah mimpiin sesuatu sebelum ngelahirin gue.
Mata gue berbinar² pengen banget ngedenger ceritanya. Tapi bukan mama yang mimpiin sih, bapak gue. Jadi didalam mimpi bapak gue tuh dia seolah berada di sebuah istana yang megah. Mungkin gambarannya seperti istana negara kali ya.



Dan ada seseorang mungkin perwira atau penguasa istana itu yang memberikan dua buah keris buat bapak gue.
Bapak menggenggam dua buah keris itu. Dan tiba² kerisnya berguncang hebat! Seolah ingin lepas dan terbang. Tapi bapak tetap bertahan menggenggam dua buah keris itu sampai guncangan kedua keris itu berhenti.
Nah bapak dapet ilham itu pas mama lagi ngandung gue. Jadi deh dia ngedatangin orang yang ngerti soal gituan. Kata orang itu keris kan tajam tuh, naah jadi anak yang dikandung itu bakal jadi anak yang pintar. "Wiiih!" dalam hati gue seneng banget dan bangga! Iya dong. Di antara saudara² gue mana ada yang lebih suka baca tulisan dan buku selain gue? Hehe 😁✌. Gue juga suka ilmu pengetahuan yang menarik dan berharap mempunyai pasangan yang pintar! Karena menurut gue kepintaran seseorang itu seksi!.
Gue masih memperdebatkan soal istana negara dan perwira yang ngasih dua keris itu. Istana itu maksudnya apa ya? Apakah mungkin gue bakal jadi orang pintar dan mendiami istana? Apa mungkin perwira itu memberikan keris kebanggaannya untuk diwariskan ke gue. Atau kelak gue akan menjadi pengganti perwira itu dan mendiami istana? Hehe gue udah terlalu banyak mengkhayal yang muluk² nih!.😁 Tentu aja dong ga segampang itu. Di dunia nyata kita harus berproses yang lama. Menempa diri kita dengan ilmu dan menghadapi cobaan yang silih berganti. Bila kita sudah menjalani semua itu dengan baik kita bisa menjadi APAPUN yang kita impikan. Asalkan kita punya niat yang kuat dan ketekunan. Dan disertai doa dan syukur tiada henti. Bintang di langit sudah pasti akan tercapai.
Balik lagi soal mimpi yang terselubung itu. Didalam mimpi itu bapak menggenggam dua keris loh. Dua! Bisa jadi nanti gue bakal kembar. Itu juga dipertegas dengan keadaan mama gue pas hamil gede banget perutnya. Paraji pun berpikir bakal ngelahirin anak kembar. Sampai tetangga menyindir mama dengan sebutan kanjut.
Dan ternyata tidak kembar. Mama menceritakan waktu itu berat badan gue pas lahir 3Kg lebih! Mengingat keadaan gue sekarang yang kurus ini gue jadi agak sedih. 😢
Gue ngebayangin kalo gue kembar bakal jadi apa ya? Apakah gue akan terhindar dari kesepian seperti sekarang ini? Apakah gue akan saling mengadu kepintaran? Apakah gue akan saling bersahabat, bermusuhan atau bunuh²an? Pasti seru ya andai gue kembar.

Kayaknya cerita tentang gue udah dulu. Sebenernya kakak² gue punya cerita yang ga kalah menarik sih dengan gue. Bagaimana ibu gue memimpikan sesuatu sebelum kelahiran mereka semua. Ntar dah gue bahas di postingan berikutnya.


Dadah! 👋


Rabu, 30 Juli 2014

Beberapa dampak negatif smartphone

Ketika banyak orang jadi makin kadung ngotak-ngatik smartphone, pusat pemulihan yang mengkhususkan diri untuk mengatasi kecanduan dan masalah emosional mengatakan kalo perangkat mobile menimbulkan beberapa kebiasaan buruk yang bahkan jauh lebih buruk lagi. Duh!

"Smartphone adalah alat yang membantu memperburuk kecanduan itu," kata Om Joel Edwards, direktur eksekutif Morningside Recovery di Newport Beach, California.

Kelompok riset pasar comScore menemukan, sekitar 70% orang Amerika punya yang namanya smartphone dan hampir dua pertiga orang berusia di akhir 20-an tinggal di rumah tanpa sambungan telepon rumah.

"Teknologi ini mendorong kecanduan lebih cepat dan dengan intensitas yang lebih dari sebelumnya, "kata Edwards.

Perangkat mobile menyediakan 3 hal: aksesibilitas, keterjangkauan dan anonimitas, kata Robert Weiss, wakil presiden Elements, sebuah perusahaan kesehatan perilaku.

Mudah bagi orang untuk berhubungan dengan orang lain demi mendukung kecanduan itu. "Bahkan pengedar narkoba bisa dengan mudah bertansaksi via online,"katanya.

Smartphone juga memainkan peran sentral dalam kecanduan perilaku dengan kemudahan mengakses game, jejaring sosial, dan pornografi.

Sekitar 95% dari kecanduan ternyata berhubungan dengan game. Berikutnya adalah pornografi dan jejaring sosial. "Dengan smartphone Anda bisa melakukan itu sepanjang waktu,"ujar Cash, pendiri Restart Life, sebuah pusat pemulihan.

Anak-anak muda sangat beresiko, kata Cole Rucker, pendiri dan CEO dari Paradigm Malibu, pusat kesehatan dan pengobatan penyalahgunaan narkoba pada remaja.

"Beberapa tahun lalu, masalah terbesar mereka adalah berhenti merokok. Sekarang, tantangan terbesar mereka adalah tidak memegang ponsel," katanya. Remaja yang menderita depresi atau kecemasan sering menggunakan smartphone sebagai kompensasi, kata Rucker. "Memakai ponsel bagaikan memakai narkoba, yaitu cara untuk menghindari pikiran dan perasaan."

Lalu, bisakah kecanduan ini disembuhkan? "Tidak ada pengobatan untuk kecanduan ponsel atau kecanduan internet." kata Weiss. Yang paling penting, cari tahulah apakah Anda memiliki masalah dalam kehidupan pribadi.

"Orang takkan jadi kecanduan tanpa defisit dalam hidup yang mendasarinya," kata Weiss. "Mereka memiliki kebutuhan untuk menemukan sesuatu yang tak mereka temukan dalam kehidupan mereka di tempat lain."
Sementara kecemasan dan depresi bisa menjadi masalah utama, masalah ini juga bisa disebabkan oleh kesepian atau stres yang berhubungan dengan pekerjaan.

Para konselor di Morningside Recovery mencoba mengatasi ketergantungan akan smartphone melalui terapi kelompok, menulis journal, dan berjalan-jalan di alam bebas.

"Kami menempatkan klien kami dalam sekelompok orang untuk memungkinkannya mengobrol dengan yang lain," kata Edwards.

Sementara Restart Life, membantu mengatasi kecanduan pada pria di atas 18 tahun dengan menjauhkan mereka dari media digital selama 35 sampai 90 hari. Ini lumayan dapat membantu meningkatkan keterampilan sosial mereka.

Jadi, jika lo termasuk sering chatting atau membuka ponsel sambil liat gitu-gituan sambil pegang anu-anuan hati-hati aja. Yakali lo udah kecanduan ponsel!.


"Taking selfie dulu ahh.."

End.